Oleh: Pdt. Juandaha Raya Purba, M.Th
A. PENDAHULUAN
Pada tanggal 3 Februari 1946 raja-raja dan sultan seluruh Sumatera Timur, termasuk Sultan Siak Sri Indrapura dari Riau sudah menyatakan tekad mendukung dan berdiri di belakang pemerintah Republik Indonesia di hadapan wakil pemerintah Gubernur Mr. Teuku Mohammad Hasan yang disaksikan oleh dr. Mohammad Amir, Tengku Hafaz, Mr. Luat Siregar, Abdul Xarim MS, dan pejabat republik lainnya. Dari Simalungun hadir Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha, Raja Purba Tuan Mogang Purba Pakpak, Raja Silimakuta Tuan Padiraja Purba Girsang yang sudah aktif di Markas Agung, Raja Siantar Tuan Sawadim Damanik, Raja Raya diwakili Tuan Jan Kaduk Saragih Garingging, dan Raja Tanoh Jawa Mr. Tuan Kaliamsyah Sinaga. Dalam rapat Komite Nasional Indonesia (KNI) di Medan, Sultan Langkat mewakili seluruh pemerintah swapraja Sumatera Timur menyampaikan pidato yang berbunyi: “Kami sultan-sultan dan raja-raja telah mengambil keputusan bersama untuk melahirkan sekali lagi itikad kami bersama untuk berdiri teguh di belakang presiden dan pemerintah Republik Indonesia dan turut menegakkan dan memperkokoh Republik Indonesia”.
Meski kaum aristokrat Sumatera Timur sudah berjanji akan ikut bergabung dengan pemerintah Republik Indonesia, namun rakyat sudah terlanjur menaruh dendam dan kebencian melihat sikap dan gaya hidup mereka selama ini, yang hidup serba kemewahan dan melakukan penindasan terhadap rakyat. Penguasa Sumatera Timur yang terkenal kaya raya saat itu adalah dari kalangan Melayu yaitu Sultan Langkat dan Sultan Deli. Adapun Sultan Langkat memperoleh kekayaan dari keuntungan usaha perminyakan dan penyewaan tanah perkebunan. Demikian juga Sultan Deli banyak menuai kekayaan dari hasil penyewaan tanah perkebunan tembakau. Slogan-slogan bernada revolusioner kemudian membahana di seantero Sumatera Timur, antara lain berbunyi “Raja-raja penghisap darah rakyat”, “Kaum feodal yang harus dibunuh” dan lagu “Darah Rakyat”. Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh kaum berhaluan kiri, khususnya kelompok komunis.
Maxinius Hutasoit sebagai saksi mata menuturkan: “Sudah tentu bahwa dalam revolusi sosial itu terselundup pula segala macam hal yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya secara obyektif dengan persoalan feodal. Kepentingan-kepentingan sendiri diboncengkan, dendam pribadi dibalas, nafsu rendah memperoleh pelampiasannya”.
B. RENCANA REVOLUSI
Adapan tokoh-tokoh, partai politik, dan organisasi yang terlibat dalam gerakan Revolusi Sosial di Sumatera Timur secara rinci sebagai berikut:
1. Abdul Xarim M.S: Ketua PKI wilayah Sumatera dan anggota Volksfront.
2. Mohammad Saleh Umar: tokoh komunis dan Ketua BHL.
3. Nathar Zainuddin: Ketua Biro Khusus PKI, anggota Volksfront, dan ipar dari Abdul Xarim M.S.
4. Sarwono Sastro Sutarjo: tokoh Pesindo, anggota Volksfront, dan pengikut gembong komunis Mr. Amir Syarifuddin di pusat.
5. Mohammad Yunus Nasution: Ketua PKI Wilayah Sumatera Timur.
6. Mr. Luat Siregar: Ketua KNI Sumatera Timur merangkap Wakil Ketua PKI Wilayah Sumatera Timur dan pernah menjadi Residen Sumatera Timur.
7. dr. Mohammad Amir (Wakil Gubernur Sumatera dan pernah bertugas sebagai dokter pribadi Sultan Langkat dan pada tanggal 23 April 1946 membelot ke NICA.
8. Jacob Siregar: putera Sutan Martua Raja Siregar, Ketua Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), dan pendiri Barisan Harimau Liar.
9. Urbanus Pardede (tokoh PKI dan pernah menjadi Bupati Simalungun menggantikan Tuan Maja Purba).
10. Zainal Baharuddin: tokoh PKI dan anggota Volksfront.
11. Bustami: Kepala Jawatan Perekonomian PKI yang mengambil alih perkebunan harta kaum bangsawan dan asing.
12. Amir Yusuf: yang mengambil alih perkebunan asing dan harta kaum bangsawan.
13. Nunung Sirait (staf Barisan Harimau Liar)
14. Abdullah Jusuf (staf Barisan Harimau Liar)
15. Marwan: Ketua Partai Komunis Indonesia cabang Tanjung Pura dan pemerkosa puteri Sultan Langkat.
16. Amar Hanafiah: tokoh komunis di Langkat yang tinggal di Kampung Terusan Tanjung Pura.
17. Bagus Saragih: Ketua Partai Komunis Indonesia cabang Tanah Jawa, Simalungun.
18. Anggaraim Elias Saragih Ras: pemimpin penculikan dan pembunuhan untuk wilayah Simalungun yang mendapat perintah dari Saleh Umar.
19. Usman Parinduri: pemerkosa puteri Sultan Langkat.
20. Mandor Iyang Wijaya: pemenggal kepala pujangga Tengku Amir Hamzah.
21. Mandor Amin: algojo pemenggal kepala manusia di Langkat.
A. E. Saragih Ras saat diwawancarai oleh pendiri Harian Waspada Mohammad Said sewaktu berada di penjara setelah aksi pembantaian itu, ia mengaku bahwa pada tahun 1944 ia sudah menjadi anggota Kenkoku Teisintai (Barisan Harimau Liar) yang dibentuk Inoue seorang perwira Jepang dan tahun 1945 ditugaskan memimpin BHL di daerah Simalungun. Perintah menghabisi keluarga bangsawan diperoleh atas perintah Sarwono pimpinan Markas Agung dan Sekretaris Zainal Abidin yang datang mengunjunginya untuk menyampaikan perintah rahasia. Saleh Umar pimpinan tertinggi Markas Agung ketika dimintai ketegasan hitam di atas putih oleh Saragih Ras, dijawab oleh Saleh Umar: “Perintah ini adalah rahasia dan sayalah yang menanggung akibatnya”. Di daerah Simalungun raja-raja yang dianggap penghalang kemerdekaan yang harus dihabisi adalah Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha, pemangku Raja Raya Tuan Jan Kaduk Saragih Garingging dan lain-lain. Harta rampasan dari para bangsawan diserahkan pada awal tahun 1949 kepada Saleh Umar yang sudah diangkat menjadi Residen Sumatera Timur (setelah menggulingkan Tengku Hafaz). Harta benda bangsawan itu pernah dipakai sebanyak dua kali, pertama untuk membiayai perbekalan TNI di Sidikalang dan kedua ketika mereka berada di Pasar Matanggor (Tapanuli Selatan) untuk membeli senjata dari Singapura yang untuk ini ditugaskan Saleh Umar kepada saudagar Tionghoa Oei Boen Tjoen yang ternyata melarikannya. Selanjutnya harta benda yang tersisa diserahkan kepada Komandan Tentara dan Teritorium I/Bukit Barisan Kolonel Alex Kawilarang pada tahun 1950.
C. JALANNYA AKSI REVOLUSI
Kekerasan pertama terjadi di Sunggal pada tanggal 3 Maret 1946, unit-unit laskar rakyat menyerang markas PADI /Pasukan kelima di dekat rumah Datuk Hitam. Dalam kerusuhan itu jatuh korban di kedua belah pihak, Datuk Hitam dan sejumlah tokoh-tokoh bangsawan termasuk Datuk Hafidz Haberham melarikan diri ke Medan. Persatuan Perjuangan cabang Sunggal menangkap sekitar 40 orang keluarga bangsawan. Bentrokan antara kedua belah pihak terus terjadi, meskipun telah diadakan cease fire. Berita kekerasan itu dengan cepat meluas ke Medan, Karo (Berastagi), Simalungun (Pamatang Siantar), Asahan, Labuhan Batu, Binjai, dan Langkat. Di Labuhan Deli terjadi penangkapan terhadap empat puluh orang Melayu, termasuk pemimpin PADI dan para penghulu. Pasukan kelima berhasil dilumpuhkan dan dr. F.J. Nainggolan ditangkap, namun ia berhasil selamat dari usaha pembunuhan, sementara isteri dan puterinya dibunuh. Istana Sultan Deli berhasil dilindungi karena adanya benteng pertahanan tentara sekutu di Medan, demikian juga istana Kesultanan Serdang dapat dilindungi karena di Perbaungan terdapat markas pasukan TRI. Di Tanjung Pura tempat kedudukan Sultan Langkat, dua orang puterinya diperkosa oleh kaum republiken. Demi menyelamatkan nyawa ayah mereka, mereka terpaksa bersedia melayani nafsu birahi Marwan dan Usman Parinduri. Kebiadaban mereka ini dituliskan oleh Tengku Luckman Sinar, “.....kedua puteri itu meraung kesakitan dan setiap rintihan merupakan pisau sembilu menusuk jantung Sultan yang mendengarnya dari kamar sebelah.” Di Binjai, Tengku Kamil dan Pangeran Stabat ditangkap bersama beberapa orang pengawalnya, isteri-isteri mereka juga ditangkap dan ditawan ditempat berpisah.
Di Tanjung Balai, Asahan 3 Maret 1946 sejak pagi ribuan massa telah berkumpul. Mereka mendengar bahwa Belanda akan mendarat di Tanjung Balai. Namun kerumunan itu berubah haluan mengepung istana Sultan Asahan. Awalnya gerakan massa ini dihadang TRI namun karena jumlahnya sedikit, massa berhasil menyerbu istana sultan. Besoknya, semua bangsawan Melayu pria di Sumatera Timur ditangkap dan dibunuh. Hanya dalam beberapa hari 140 orang sudah ditemukan dalam keadaan terbunuh termasuk para penghulu, pegawai didikan Belanda, dan sebagian besar adalah kerabat kesultanan. Di Tanjung Balai dan Tanjung Pasir hampir semua kelas bangsawan mati terbunuh.
D. REVOLUSI SOSIAL DI SIMALUNGUN
1. Kerajaan Panei
REVOLUSI SOSIAL DI SUMATERA TIMUR
Pada hari itu juga Tuan Naga Panei (berdasarakan informasi dari Richard Nainggolan) melaporkan kepada Raja Panei bahwa A. E. Saragih Ras dan laskarnya yang sudah terlatih akan datang menculik dan menjarah ke istana raja, supaya raja maklum dan segera menyelamatkan diri. Anehnya, meskipun Raja Panei sudah mengetahui akan kedatangan pasukan BHL pimpinan iparnya sendiri yaitu A. E. Saragih Ras, namun dia tidak pergi menyelamatkan diri ke Pamatang Siantar. Pihak istana hanya melakukan tindakan antisipatif dengan menempatkan pengawal yang terdiri dari laksar Pesindo dengan pengawalan Raja Muda Panei Tuan Margabulan Purba Dasuha dan adik-adiknya yang sudah dewasa. Menurut Tuan Kamen Purba, abangnya Raja Muda pada waktu itu sudah aktif di pasukan Marsose yang berjuang melawan Belanda. Rakyat yang berkumpul pada waktu itu di sekitar istana menjaga keselamatan raja dan keluarganya. Tuan Aliamta Purba yang masih berumur 5 tahun pada waktu itu sedang sakit dikelilingi oleh kelurga besar raja. Di tengah malam tiba-tiba listrik padam, rupanya pasukan BHL sudah mengepung istana. Pasukan pengawal tidak berdaya menghadapinya, ada yang tewas dan sebagian diikat. Pasukan BHL berjumlah lebih kurang 50 orang itu naik ke istana, mereka tidak berbicara dan memakai penutup wajah. Serempak mereka masuk dan menjarah seluruh istana raja membawa karung masuk ke dalam kamar perbendaharaan raja, mengambil emas banyak sekali dari peti, uang perak gulden dan uang kertas Jepang. Senjata revolver Raja Muda turut dirampas. Seluruh isi istana dijarah, Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba dan kedua anaknya yaitu Tuan Margabulan Purba (Raja Muda) dan Tuan Jautih Purba serta seluruh perempuan dewasa diikat tangannya. Ditambah 28 rakyat yang tidak rela meninggalkan rajanya turut diikat, mereka kemudian dinaikkan ke dalam 2 unit truk. Iringan BHL berjalan menuju ke Tigaras, sepanjang perjalanan Raja Panei disiksa dan akhirnya seluruh rombongan dibunuh dengan sadis di Nagori dekat Tiga Sibuntuon. Raja Panei yang kebal dengan senjata tajam dibunuh dengan cara ditombak melalui duburnya hingga mengenai leher, setelah itu kepalanya dipenggal dan lidahnya dicabut paksa. Demikian juga kedua anaknya juga dibunuh dengan cara dipenggal. Beruntung anaknya yang lain yaitu Tuan Margaidup Purba, Tuan Iden Purba, Tuan Abraham Purba, dan adik-adiknya berhasil melarikan diri dari istana menuju Naga Huta melewati kebun teh ke tempat markas tentara Jepang yang pada minggu siang sempat berkunjung ke istana. Dari sana mereka berangkat ke Pagar Jawa dan dijemput pasukan TRI dan diamankan di Pamatang Siantar (rumah Tuan Maja Purba Bupati Simalungun). Anak Raja Panei yang lain Tuan Kamen Purba pada malam itu bersama dengan Inang Bona, isteri Raja Panei sedang berada di ladang di Naga Huta. Sementara abangnya Tuan Nalim Purba sedang bersekolah di Pamatang Siantar. Rumah pesanggerahan raja Panei di Jl. Sekolah (sekarang Jl. Sudirman) sudah dikuasai BHL dan dijadikan markas mereka. Mobil pribadi Raja Panei dirampas dan dipakai Urbanus Pardede yang sudah mengkudeta Tuan Maja Purba sebagai Bupati Simalungun. Harta Raja Panei habis disikat dan istana (rumah panggung berarsiterktur semi Melayu) kemudian dibakar atas pimpinan seorang marga Sinaga. Sedangkan Rumah Bolon yang merupakan istana lama utuh tetapi puluhan tahun tidak terawat runtuh dimakan usia, karena ketiadaan perawatan.
2. Tanoh Jawa
Raja Muda Tanoh Jawa Tuan Omsah Sinaga dan saudaranya Raja Tanoh Jawa Tuan Kaliamsyah Sinaga selamat dari penculikan BHL, karena saat itu mereka berada di Pematang Siantar. Tetapi saudaranya Tuan Dolog Panribuan yaitu Tuan Mintahain Sinaga dan puteranya Raja Muda Tuan Hormajawa Sinaga (ayah Mayor Jatiman Sinaga) tewas dibunuh BHL beberapa bulan kemudian, yaitu 16 Agustus 1946. Menurut Killian Lumbantobing, mayatnya dicincang dan dicampur dengan daging kerbau serta disuguhkan untuk santapan pasukan BHL. Menurut Tuan Gindo Hilton Sinaga masih banyak korban revolusi sosial di Tanoh Jawa yang masih belum terungkap.
3. Kerajaan Siantar
Pemangku raja Siantar Tuan Sauadin Damanik luput dari pembunuhan BHL, karena pada waktu itu beliau berada di rumahnya di Pamatang Bandar dilindungi oleh pendatang Batak Toba yang menggarap sawah di sana. Tetapi di Sipolha, beberapa kaum bangsawan tewas dibunuh, termasuk Tuan Sipolha yaitu Tuan Sahkuda Humala Raja Damanik (ayah Tuan Jabanten Damanik). Bangsawan di Sipolha yang paling banyak mengalami pembantaian oleh BHL, berhubung dengan lokasinya yang relatif lebih terisolir di pantai Danau Toba, jauh dari pengawasan TRI. Banyak keluarga Tuan Sipolha yang menyelamatkan diri ke daerah Parapat bahkan mengungsi sampai ke luar negeri. Diperkirakan ada ratusan korban tewas dibantai oleh BHL di Sipolha. Tuan Sidamanik sendiri Tuan Ramahadim Damanik bersama Raja Muda Sidamanik yaitu Mr. Tuan Djariaman Damanik sudah mengetahui gelagat buruk ini, mereka menyingkir ke Pamatang Siantar. Setelah bermufakat di rumah pesanggerahan Tuan Sidamanik bersama Tuan Bisara Sinaga dari Jorlang Hataran, Tuan Baja Purba dari Dolog Batu Nanggar, dan Tuan Jansen Saragih dari Raya Kahean mereka pergi berlindung ke kantor polisi RI. Beberapa hari kemudian Tuan Jariaman Damanik menemukan buku kecil berwarna merah beredar di kota Pamatang Siantar yang berjudul “Revolusi Perancis dan Revolusi Soviet” di sampul terdapat lukisan palu arit yang merupakan simbol partai komunis. Melihat keadaan yang semakin memanas, Tuan Jariaman Damanik memilih berangkat ke Tapanuli bergabung dengan TKR RI atas saran Komandan TKR Pamatang Siantar Rikardo Siahaan.
4. Kerajaan Purba
Meskipun Raja Purba Tuan Mogang Purba telah mengungsi ke Markas Langit bersama anaknya Tuan Jamin Purba, tetapi keduanya tewas secara misterius. Tuan Jamita Purba dan Tuan Lintar Purba tewas disekitar Tigaras. Semuanya berlangsung di sekitar bulan April tahun 1947. Pantai Haranggaol pada masa itu dikabarkan penuh dengan mayat-mayat manusia yang tewas dibantai dengan sadis, sampai-sampai orang tidak mau memakan ikan dari danau Toba, karena sering kedapatan jari manusia dalam perut ikan. Pada tahun 1947 pemangku Kerajaan Purba Tuan Karel Purba tewas terbunuh oleh BHL di Haranggaol. Anaknya Tuan Maja Purba pejabat pemerintah RI pernah menjadi Bupati Simalungun dan pejabat Gubernur Sumatera Utara. Adapun keturunan Raja Purba yang selamat yaitu Mr. Tuan Jaidin Purba pernah menjabat sebagai walikota Medan. Kemudian Tuan Jomat Purba, terakhir Kolonel TNI aktif memimpin pasukan Blaw Pijper Negara Sumatera Timur.
5. Kerajaan Silima Huta
Raja Silima Huta Tuan Padiraja Purba Girsang yang sudah aktif di Markas Agung juga tewas dan tidak diketahui di mana makamnya, sewaktu mengungsi ke Tanah Karo. Bersama beliau turut tewas dokter pertama Simalungun dr. Jasamen Saragih. Konon mayat Raja Silima Huta dihanyutkan di sungai Lau Dah dekat Kabanjahe. Turut juga ditangkap Pangulubalei Jaudin Saragih dan ditahan di Raya Berastagi tetapi beliau mujur masih hidup diselamatkan oleh TRI.
6. Kerajaan Raya
Nasib naas menimpa pemangku Raja Raya Tuan Jaulan Kaduk Saragih Garingging gelar Tuan Raya Kahean. Beliau seorang maestro seni Simalungun dan perintis pembangunan jalan penghubung Sondi Raya-Sindar Raya. Semasa dia menjabat sebagai penguasa swapraja di Raya sungguh banyak pembangunan yang dirasakan masyarakat seperti pengadaan listrik dan air minum serta transportasi bus yang diberi nama “Sinanggalutu” dengan rute Pamatang Siantar-Pamatang Raya. Beliau ditangkap pasukan BHL sewaktu menghadiri acara keluarga saudaranya Tuan Manak Raya, bersama Opas Radan Sitopu dan Penilik Sekolah (Schoolopziner) Saulus Siregar. Ketiganya ditangkap dan dibawa ke bawah jembatan Bah Hutailing (dekat Sirpang Sigodang). Opas Radan Sitopu dapat meloloskan diri dengan berpura-pura mati dan menjatuhkan dirinya ke sungai, sedangkan Saulus Siregar dan Tuan Jaulan Kaduk tewas dipenggal lehernya dan dihanyutkan ke sungai Bah Hutailing tersebut. Mayatnya kemudian ditemukan TRI lalu dibawa ke Pamatang Siantar dan dimakamkan secara agama Kristen. Keturunannya yang terkenal di antaranya adalah Tuan Bill Amirsjah Rondahaim Saragih (Bill Saragih) yang dikenal sebagai seorang komponis jazz yang lama berdiam di Australia dan Prof. Dr. Bungaran Saragih, M.Si mantan Menteri Pertanian RI era Presiden Abdurrahman Wahid. Adapun Tuan Anggi Raya yaitu Tuan Pusia Saragih Garingging memilih gantung diri daripada ditangkap oleh BHL. Keluarga bangsawan Raya lainnya ada yang melarikan diri ke hutan atau tempat yang aman. Selain kaum bangsawan, orang-orang di luar kerabat kerajaan juga ikut terbunuh seperti Bisa Lingga, Willem Saragih, Bungaronim Damanik, dan Parudo Girsang. Sasaran BHL bukan hanya kaum bangsawan, tetapi juga mereka yang kebetulan posisinya sebagai pejabat sipil, tenaga medis (dokter, mantri, bidan), guru bahkan mereka yang busananya terlihat kebarat-baratan juga ikut menjadi korban.
Pemerintah pusat melalui Komite Nasional Indonesia tidak membenarkan aksi pembantaian tersebut. Para menteri seperti Sultan Hamengkubowono IX, Mrs. Maria Ulfah Santoso, Mr. Mohammad Roem dan Mr. Syarifuddin Prawiranegara pernah berjanji bahwa para keluarga korban revolusi sosial tahun 1946 akan dikembalikan kehormatannya dan harta benda mereka dikembalikan oleh negara.
Di bawah ini saya lampirkan beberapa foto raja-raja di Simalungun yang terbunuh dan berhasil selamat.
1. Raja Panei, Tuan Bosar Sumalam Purba Sidasuha (terbunuh).
2. Raja Purba, Tuan Mogang Purba Sidapakpak (terbunuh).
3. Raja Silima Huta, Tuan Padiraja Purba Girsang (terbunuh).
4. Raja Raya, Tuan Jaulan Kaduk Saragih Garingging (terbunuh).
5. Raja Dolog Silou, Tuan Bandar Alam Purba Tambak (selamat).
6. Raja Siantar, Tuan Sauadin Damanik Bariba (selamat).
7. Raja Sidamanik, Tuan Ramahadim Damanik Bariba (selamat).
8. Raja Tanoh Jawa, Tuan Kaliamsyah Sinaga Dadihoyong (selamat). Pada tahun 1947-1950 mendapat amanah menjadi Wakil Wali/Wakil Presiden Negara Sumatera Timur dan tahun 1949 ikut menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.
Artikel terkait tentang ini bisa dibaca di sini:
https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/sumatera-timur-tanah-kucinta-sumatera-timur-indonesia-bBg7
https://www.google.com/amp/s/historia.id/amp/politik/articles/pulihnya-kekuasaan-melayu-DWebk






